Kalau tinggal di Indonesia, kita sering menganggap “wajar” kalau air keran/PDAM tidak langsung diminun. Akhirnya banyak keluarga memilih opsi yang terasa paling praktis: beli air galon isi ulang atau air kemasan—yang kalau dihitung-hitung, biaya bulanannya bisa terasa “bocor halus”.

Di episode podcast Walk Talk Listen, Lieselotte (Lisa) Heederik, Co-Founder & Director Nazava, membahas realita ini dari sisi yang sangat dekat: berawal dari pengalaman pribadi di Indonesia—harus beli air, masih ragu kebersihannya, lalu tetap direbus—hingga akhirnya memicu lahirnya solusi yang lebih terjangkau.

🎧 Dengarkan podcastnya di sini: Making Safe Water Accessible: Social Innovation with Purpose with Lieselotte Heederik – Walk Talk Li

Kenapa “solusi murah” ini jarang dibicarakan?

Karena kita sering terjebak di dua pilihan ekstrem:

  1. Air kemasan/galon: praktis, tapi biaya rutin tinggi.
  2. Rebus air: terlihat murah, tapi butuh waktu, bahan bakar, dan tidak selalu konsisten dilakukan.

Padahal ada “jalan tengah” yang sering luput: memurnikan sumber air yang sudah kita punya (air keran/PDAM, sumur, air hujan—tergantung kondisi) menjadi lebih aman untuk diminum, tanpa harus beli air minum terus-menerus.

Nazava hadir sebagai “the affordable fix” itu: solusi yang membuat keluarga bisa lebih hemat sambil tetap mengejar hal terpenting—air minum yang aman.

Dari pengalaman rumah tangga, jadi misi untuk jutaan keluarga

Dalam podcast, Lisa bercerita: saat tinggal di Indonesia, ia dan suami mengalami sendiri sulitnya mendapatkan air minum yang benar-benar aman. Mereka lalu mencoba merakit sistem sederhana berbasis filter—dan ternyata banyak tetangga serta teman punya masalah yang sama.

Dari situ, Nazava lahir dengan tujuan yang sangat jelas: membantu keluarga, terutama berpenghasilan lebih rendah, mendapatkan air minum aman dengan cara yang terjangkau.

Kalau Anda ingin mengenal Nazava lebih dekat, ini halaman resminya:

“Cara kerja”-nya gimana? (Singkat, jelas)

Nazava pada dasarnya membantu menyaring air agar lebih aman diminum. Lisa menjelaskan konsep filtrasi yang sederhana namun efektif—tanpa ribet.

Untuk penjelasan teknis versi Nazava (bahasa Indonesia), Anda bisa rujuk:

Lebih hemat daripada beli air minum terus?

Banyak keluarga baru “ngeh” setelah menghitung:

  • biaya galon/air minum mingguan,
  • biaya antar-jemput,
  • dan kebiasaan “beli lagi” setiap habis.

Dengan filter air minum rumah tangga, logikanya dibalik: bukan beli air minum berulang-ulang, tapi memurnikan air yang sudah tersedia di rumah.

Nazava juga punya halaman yang membahas dampak sosial, lingkungan, dan ekonomi dari penggunaan filter:

Air minum aman di sekolah: isu besar yang sering tidak terlihat

Bagian yang paling “nendang” dari podcast ini adalah ketika Lisa menyorot sekolah: banyak sekolah masih kesulitan menyediakan air minum aman untuk murid. Akibatnya, anak sering memilih minuman manis di sekitar sekolah saat haus—yang dampaknya bisa panjang.

Nazava punya program khusus untuk ini:

“Perusahaan sosial” tapi tetap bisnis: kenapa itu penting?

Di podcast, Lisa juga membahas pendekatan Nazava sebagai bisnis yang punya misi sosial: produk dijual (agar ada ownership & keberlanjutan), namun fokusnya tetap pada akses air minum aman untuk lebih banyak orang.

Kalau Anda ingin membaca konteks B Corp Nazava dalam Bahasa Indonesia:

Mau mulai dari mana? Ini rute paling gampang

Kalau Anda ingin coba solusi “the affordable fix” ini, berikut beberapa tautan resmi:

Penutup: pertanyaan sederhana yang bisa mengubah kebiasaan kita

Lisa menutup dengan ajakan reflektif:
“Apa yang akan kamu lakukan kalau kamu tahu air yang kamu minum tidak aman?”

Kalau jawaban Anda selama ini adalah “beli lagi”, mungkin sekarang saatnya mempertimbangkan opsi yang lebih hemat dan berkelanjutan:
memurnikan air di rumah—dengan solusi yang terjangkau.

🎧 Dengarkan percakapan lengkapnya di podcast: Making Safe Water Accessible: Social Innovation with Purpose with Lieselotte Heederik – Walk Talk Li